Laporan Praktek STP Pada Switch Dan Router

5:41 PM

1. Tujuan

Siswa dapat memahami pengertian STP.
Siswa dapat mengetahui fungsi dari STP.
Siswa dapat mengetahui mekanisme dan prinsip kerja STP.
Siswa dapat mengetahui sintaks-sintaks dari pada konfigurasi STP.
Siswa dapat mengaplikasikannya dengan menggunakan simulator.
2. Pendahuluan

Dalam membangun suatu infrastructure jaringan, kita membangun pondasi infrastructure logis (seperti layanan directory dari system windows server 2003, domain name system) dan juga infrastructure fisik (seperti domain controller, piranti jaringan seperti router dan switch). Switch adalah piranti jaringan yang paling banyak dipakai dalam suatu infrastructure jaringan fisik. Anda tahu bahwa switch dibuat berdasarkan konsep bridge.
Bridge merupakan piranti murni yang bekerja pada layer Data Link pada model OSI, dimana merupakan cikal bakal daripada Switch LAN.

Ada tiga jenis bridge:

1. Tarnsparant bridge (untuk jaringan Ethernet dan Token Ring)
2. Source-routing bridge (untuk jaringan Token Ring saja)
3. Source-routing transparent bridge (untuk jaringan Token Ring saja)
Karena kita hanya membahas jaringan Ethernet saja, maka hanya jenis transparent bridge saja yang kita akan concern. Suatu bridge disebut transparent jika kedua piranti pengirim dan penerima dalam suatu komunikasi dua piranti tidak menyadari adanya suatu bridge. Yang mereka tahu hanya lah bahwa keduanya berada pada segmen yang sama.

Bagaimana transparent bridge bekerja?

• Transparent bridges membangun database mengenai data dari piranti dan disegmen mana piranti tersebut berada dengan cara memeriksa sumber address dari paket yang datang. Untuk bridge yang baru dipasang database masih kosong. Begitu juga piranti jaringan yang baru dikonek ke bridge tidak ada dalam database.
• Transparent bridge meneruskan paket berdasarkan aturan berikut:
o Jika address tujuan tidak diketahui (tidak ada didatabase ), maka bridge meneruskan paket kesemua segmen.
o Jika address tujuan diketahui dan ada di segmen yang sama, maka bridge membuang paket tersebut, jadi tidak dilewatkan ke segmen lainnya.
o Jika address tujuan diketahui dan berada di segmen lain, maka bridge meneruskan paket kepada segmen yang tepat.
• Transparent bridge meneruskan paket hanya jika kondisi berikut dipenuhi:
o Frame berisi data pada layer bagian atas (data dari sub-layer LLC keatas)
o Integritas frame telah diverifikasi (suatu CRC yang valid)
o Frame tersebut tidak dialamatkan kepada bridge

Bridging loops dan STA – Algoritma Spanning Tree

Bridge menghubungkan dua segmen LAN, membentuk satu jaringan. Bridge, dengan namanya saja sudah mensiratkan arti sebuah jembatan, merupakan titik pertemuan antara dua segmen jaringan.
Jika bridge ini tidak berfungsi, maka sudah pasti traffic antara kedua segmen jaringan tersebut menjadi tidak mungkin. Agar dua jaringan tadi bisa fault tolerance (artinya jika ada kerusakan maka harus ada backup yang menggantikan fungsi tersebut), maka setidaknya harus ada dua bridge untuk menghubungkan kedua jaringan.

Bagaimana spanning tree bekerja?

Spanning tree algoritma secara automatis menemukan topology jaringan, dan membentuk suatu jalur tunggal yang yang optimal melalui suatu bridge jaringan dengan menugasi fungsi-2 berikut pada setiap bridge. Fungsi bridge menentukan bagaimana bridge berfungsi dalam hubungannya dengan bridge lainnya, dan apakah bridge meneruskan traffic ke jaringan-2 lainnya atau tidak.
1. Root bridge
Root bridge merupakan master bridge atau controlling bridge. Root bridge secara periodik mem-broadcast message konfigurasi. Message ini digunakan untuk memilih rute dan re-konfigure fungsi-2 dari bridge-2 lainnya bila perlu. Hanya da satu root bridge per jaringan. Root bridge dipilih oleh administrator. Saat menentukan root bridge, pilih root bridge yang paling dekat dengan pusat jaringan secara fisik.
2. Designated bridge
Suatu designated bridge adalah bridge-2 lain yang berpartisipasi dalam meneruskan paket melalui jaringan. Mereka dipilih secara automatis dengan cara saling tukar paket konfigurasi bridge. Untuk mencegah terjadinya bridging loop, hanya ada satu designated bridge per segment jaringan
3. Backup bridge
Semua bridge redundansi dianggap sebagai backup bridge. Backup bridge mendengar traffic jaringan dan membangun database bridge. Akan tetapi mereka tidak meneruska paket. Backup bridge ini akan mengambil alih fungsi jika suatu root bridge atau designated bridge tidak berfungsi.
Bridge mengirimkan paket khusus yang disebut Bridge Protocol Data Units (BPDU) keluar dari setiap port. BPDU ini dikirim dan diterima dari bridge lainnya digunakan untuk menentukan fungsi-2 bridge, melakukan verifikasi kalau bridge disekitarnya masih berfungsi, dan recovery jika terjadi perubahan topology jaringan.
Dengan adanya Router yang membatasi koneksi antarswitch, maka akan terbatasi pula dalam pengelompokan VLAN, konfigurasi VTP maupun STP. Mengapa ? Karena Router membatasi Broadcast Domain, sedangkan Switch membatasi Collision Domain.
3. Alat dan Bahan
1. Seperangkat PC.
2.
Software simulasi (Packet Tracer 5.03).
3.
Software Pengolah Kata.
4.
Skenario Topologi dan IP Addressnya.
5.
Skenario jalur STP nya.


4. Langkah Kerja

· Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
· Baca dan perhatikanlah skenario. Pertama, kita buat dahulu topologinya, seperti gambar di bawah ini :

· Kemudian, tentukan IP Address pada PC yang akan saling berkomunikasi. Untuk lebih jelas, perhatikanlah tabel dibawah ini :
· Lalu, tentukan juga IP Address pada Router yang akan saling berkomunikasi. Untuk lebih jelas, perhatikanlah tabel dibawah ini :
· Skenario :
PC 12 akan mengirimkan paket data menuju PC 6 dengan jalur STP melalui Switch I - F - E - D.

A. Konfigurasi di Router 8
· Masuk ke mode CLI yang terdapat pada opsi menu Manageable Switch.
· Masuk ke mode super user, kemudian masuk ke mode konfigurasi dengan mengetikkan perintah :
Switch>en
Switch#conf t
· Kemudian berikan konfigurasi static routing nya agar dapat saling terkoneksi, dengan mengetikkan perintah :
Switch(config)# ip route 10.10.3.0 255.255.255.0 10.10.4.4
· Selesai.

B. Konfigurasi di Router 5
· Masuk ke mode CLI yang terdapat pada opsi menu Manageable Switch.
· Masuk ke mode super user, kemudian masuk ke mode konfigurasi dengan mengetikkan perintah :
Switch>en
Switch#conf t
· Kemudian berikan konfigurasi static routing nya agar dapat saling terkoneksi, dengan mengetikkan perintah :
Switch(config)# ip route 10.10.1.0 255.255.255.0 10.10.4.3
· Selesai.

C. Konfigurasi di Switch E
· Masuk ke mode CLI yang terdapat pada opsi menu Manageable Switch.
· Masuk ke mode super user, kemudian masuk ke mode konfigurasi dengan mengetikkan perintah :
Switch>en
Switch#conf t
· Lalu, kita konfigurasi interface yang akan dijadikan root bridge (jalur utama) nya. Kita konfigurasikan trunking dan spanning tree nya :
Switch(config)#interface fastEthernet 0/5
Switch(config-if)#switchport mode trunk
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/5, changed state to down
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/5, changed state to up
Switch(config-if)#spanning-tree vlan 1 port-priority 16
Switch(config-if)#ex
Switch(config)#interface fastEthernet 0/4
Switch(config-if)#switchport mode trunk
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/4, changed state to down
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/4, changed state to up
Switch(config-if)#spanning-tree vlan 1 port-priority 32
· Lalu kita lihat apakah konfigurasi STP kita apakah benar atau salah, dengan mengetikkan perintah dibawah ini :
Switch#sh spanning-tree vlan 1

· Selesai.


  1. Hasil Percobaan









  1. Kesimpulan
Jadi, dengan adanya STP, looping data dan broadcast storm tidak akan terjadi. Selain itu, kita dapat membuat jalur pengiriman data sesuai dengan keinginan kita. Dengan adanya Router yang membatasi koneksi antarswitch, maka akan terbatasi pula dalam pengelompokan VLAN, konfigurasi VTP maupun STP. Mengapa ? Karena Router membatasi Broadcast Domain, sedangkan Switch membatasi Collision Domain.

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook